Metode Perhitungan dalam Depresiasi: Decreasing Charge Method

  • Date
  • Posted by
    admin
  • Comments
    0

     Selain metode garis lurus dan metode aktivitas, terdapat juga metode lain yang dipakai oleh perusahaan untuk menghitung nilai penyusutan asetnya. Metode itu ialah decreasing charge method atau yang biasa dikenal sebagai metode biaya penyusutan beban menurun. Decreasing charge method adalah metode penyusutan aset yang dipercepat yang dimana memberikan biaya penyusutan yang lebih tinggi pada tahun awal dan biaya yang lebih rendah pada periode tahun-tahun berikutnya.

     Tujuan dari metode biaya penyusutan beban menurun ialah agar jumlah beban depresiasi dan biaya pemeliharaan serta perbaikan dari tahun ke tahun akan relatif stabil. Di tahun pertama, bila depresiasinya tinggi maka biaya pemeliharaannya akan rendah. Sebaliknya, di tahun terakhir beban depresiasi akan rendah nilainya dan biaya pemeliharaan akan tinggi nilainya. Selain itu, metode biaya penyusutan beban menurun dibagi ke dalam dua jenis, yaitu sebagai berikut :

  1. Sum Of The Years Digit Method (Metode Jumlah Angka Tahun)

     Perhitungan pada metode penyusutan ini yaitu menggunakan pecahan dengan pembilang angka tahun dan jumlah tahunnya yang menjadi penyebut.

     Lebih jelasnya, pada rumus depreciation fraction-nya terdapat denominator (penyebut) yang di dapat dari jumlah tahun-tahun yang ada atau dengan rumus "n(n+1)/2" dan numerator (pembilang) yang dimulai dari angka akhir. Pada metode ini, nilai pembilang akan menurun dari tahun ke tahun dan nilai penyebut akan tetap konstan.

Depresiasi = ( Harga Perolehan - Nilai Residu ) x  ( numerator ( Pembilang ) /  denominator ( penyebut ) )

Contoh :

Pada 1 Januari 2021, perusahaan membeli sebuah mesin untuk meningkatkan produksinya. Harga perolehan mesin tersebut sebesar Rp 150.000.000 dengan taksiran nilai residu sebesar Rp 15.000.000. Mesin tersebut ditaksir juga hanya mampu berproduksi sampai dengan 5 tahun.

Denominator         = 5(5+1)/2 = 15

Dasar Penyusutan    = Rp 150.000.000 - Rp 15.000.000

                    = Rp 135.000.000

Jawab : 

Tahun

Ke-

Dasar Penyusutan

Tarif

Beban Depresiasi

Akumulasi Depresiasi

Nilai Buku

1

Rp 135.000.000

5/15

Rp.45.000.000

Rp.  45.000.000

Rp. 105.000.000

2

Rp 135.000.000

4/15

Rp.36.000.000

Rp.  81.000.000

Rp.   69.000.000

3

Rp 135.000.000

3/15

Rp.27.000.000

Rp.108.000.000

Rp.   42.000.000

4

Rp 135.000.000

2/15

Rp.18.000.000

Rp.126.000.000

Rp.   24.000.000

5

Rp 135.000.000

1/15

Rp.  9.000.000

Rp.135.000.000

Rp.   15.000.000

     Selanjutnya, kelebihan dari metode ini sendiri yaitu lebih hemat dari segi biaya, namun sayangnya ada aturan pajak yang membatasi penggunaan metode penyusutan jumlah angka tahun. Dalam pelaporan pajak metode ini tidak bisa digunakan, alhasil jarang sekali ada perusahaan yang menggunakan metode penyusutan jumlah angka tahun dalam aplikasinya.

b. Declining Balance (Metode Saldo Menurun)

     Pada metode ini tarif atau rate di dapat dari 2 x straight line method x 100%. Selain itu, pada metode ini nilai residu nya tidak dikurangkan. Nilai depresiasi dihitung dengan cara mengalikan tarif yang tetap dengan nilai buku aset.

Depresiasi = Harga Perolehan x Tarif depresiasi

Tarif depresiasi = ( 100% : Umur ekonomis) x 2

Contoh :

     Pada 1 Januari 2021, perusahaan membeli mobil pick-up senilai Rp. 150.000.000 dengan taksiran nilai residu sebesar Rp 10.000.000. Masa penggunaan mobil ditaksir hanya selama 5 tahun. Perusahaan menggunakan metode Declining Balance untuk penyusutan asetnya.

Diketahui:

Harga Perolehan       = Rp. 150.000.000

Umur ekonomis         = 5 tahun

                      = Rp    10.000.000

Jawab:    

Tarif depresiasi      = ( 100% : 5 ) x 2

                      =  40 %

Tahun

Nilai Buku

Awal

Tarif

Beban Depresiasi

Akumulasi Depresiasi

Nilai Buku

Akhir

2021

Rp. 150.000.000

40 %

Rp. 60.000.000

Rp.   60.000.000

Rp. 90.000.000

2022

Rp.   90.000.000

40 %

Rp. 36.000.000

Rp.   96.000.000

Rp. 54.000.000

2023

Rp.   54.000.000

40 %

Rp. 21.600.000

Rp. 117.600.000

Rp. 32.400.000

2024

Rp.   32.400.000

40 %

Rp. 12.960.000

Rp. 130.560.000

Rp. 19.440.000

2025

Rp.   19.440.000

40 %

Rp.   7.776.000

Rp. 138.336.000

Rp. 11.664.000

     Selain itu, metode ini juga memiliki kelebihan yang sama dari metode Jumlah Angka Tahun (JAT) yaitu lebih hemat dari segi biaya bila dibandingkan dengan metode lainnya. Namun, metode ini juga memiliki kekurangan yaitu metodenya lebih rumit dan sulit diaplikasikan dalam akuntansi karena rumusnya yang cukup rumit.

 

Share this Post:

Comments0