Metode Perhitungan dalam Depresiasi: Straight-line Method & Activity Method

  • Date
  • Posted by
    admin
  • Comments
    0

    PSAK No. 17 menjelaskan bahwa definisi dari depresiasi adalah alokasi jumlah suatu aktiva yang bisa disusutkan sepanjang masa manfaat yang diestimasi. Secara singkatnya, depresiasi adalah sebuah penurunan dari nilai aset tetap. Penurunan ini bersifat permanen  sehingga setelah dikurangi nilainya tidak dapat dikembalikan ke nilai aslinya.

    Depresiasi akan sangat mempengaruhi nilai dari sebuah perusahaan, dikarenakan dalam depresiasi terdapat akun akumulasi penyusutan yang berdampak pada pengurangan nilai buku pada neraca serta akun beban penyusutan yang akan mempengaruhi laba bersih perusahaan. Maka dari itu, perhitungan nilai depresiasi harus dilakukan secara tepat dan benar.

Terdapat beberapa faktor yang mempengaruhi perhitungan depresiasi, diantaranya yaitu :

a. Cost
(biaya atau harga perolehan)
Biaya yang dimaksud di sini adalah biaya perolehan. Biaya ini menjadi dasar penghitungan seberapa besar depresiasi yang harus dialokasikan per periode akuntansi.

  1. Useful life (masa manfaat atau umur ekonomis)

Masa manfaat merupakan estimasi umur produktif aktiva yang kita harapkan. Masa manfaat dapat dinyatakan dalam tahun, unit aktivitas, unit output.

  1. Residual value (nilai sisa)

Nilai sisa merupakan estimasi dari nilai aktiva di akhir masa manfaatnya.

  1. Metode Depresiasi

Metode depresiasi mempengaruhi besarnya beban depresiasi, karena setiap metode memiliki rumus yang berbeda-beda. Selain itu, metode depresiasi terbagi menjadi 3 bagian yaitu straight-line method, activity method, dan demishining charge method.

   Dalam suatu bisnis, perusahaan harus dapat menerapkan metode perhitungan depresiasi yang sistematis, rasional dan tentunya paling menguntungkan bagi perusahaan. Untuk itu, seorang akuntan harus bisa memahami berbagai metode perhitungan depresiasi yang biasa dipakai di dalam perusahaan. Berikut ini merupakan paparan mengenai cara mudah memahami metode perhitungan dalam depresiasi beserta contoh kasusnya.

1. Straight Line Method ( Metode Garis Lurus )

   Metode ini memiliki fokus pada penyusutan menggunakan waktu bukan dari fungsi penggunaan atau pemakaiannnya. Metode ini juga merupakan metode yang sering digunakan dalam perusahaan. Berikut ini merupakan rumus dari straight line method.

Depresiasi = (Harga Perolehan - Nilai Residu) / Umur Ekonomis


Contoh : Sebuah mesin diperoleh pada 1 Juli 2021 dengan harga Rp 10.000.000 dan ditaksir memiliki umur ekonomis 10 tahun. Apabila ditarik komponen mesinnya, diperkirakan besi tua mesin tersebut dapat dijual seharga Rp 300.000. Perusahaan menggunakan metode garis lurus untuk depresiasinya.

Beban penyusutan untuk tahun 2021, dihitung dengan cara:

Depresiasi  = 6/12 x [(Rp 10.000.000- Rp 300.000) : 10]

            = Rp.485.000

Nilai penyusutan mesin selama tahun 2021 yaitu sebesar Rp.485.000.

2. Activity Method atau Unit of use/production (Metode Aktivitas)

   Berkebalikan dari metode straight line, metode ini berasumsi bahwa penyusutan adalah fungsi dari produktivitas atau penggunaan dan bukan dari segi berlalunya waktu. Berikut ini merupakan rumus dari activity method.

Depresiasi = ( Harga Perolehan - Nilai Residu) x Pemakaian Tahun Ini
                                                    Umur Ekonomis

Contoh :
    Pada 1 Januari 2017, perusahaan membeli truk senilai Rp. 300.000.000. Dengan masa penggunaan 5 tahun. Setelah 5 tahun, harganya menjadi Rp. 25.000.000. Pada tahun 2017, diasumsikan truk telah menempuh jarak sejauh 250.000 km, pada tahun 2018 truk telah menempuh jarak sejauh 320.000 km, tahun 2019 telah menempuh 210.000 km, tahun 2020 telah menempuh 150.000 km dan tahun 2021 telah menempuh 70.000 km.

Diketahui :

Harga Perolehan                 = Rp. 300.000.000.

Umur ekonomis                   = 5 tahun

Nilai Residu                    = Rp.25.000.000.

Aktivitas  unit tahun 2017      = 250.000 km

Aktivitas  unit tahun 2018      = 320.000 km

Aktivitas  unit tahun 2019      = 210.000 km

Aktivitas  unit tahun 2020      = 150.000 km

Aktivitas  unit tahun 2021      =  70.000 km

Jawab:

Biaya Depresiasi   =  Harga Perolehan - Nilai Residu

                   = Rp. 300.000.000.- Rp. 25.000.000.

                   = Rp. 275.000.000

Biaya Depresiasi  per Unit = Biaya Depresiasi / Total Aktivitas Unit

                           = Rp. 275.000.000 / (250.000 + 320.000 + 210.000 + 150.000 

                             + 70.000)

                           = Rp. 275.000.000 / 1.000.000 km

                           = Rp. 275 per unit

Tahun

Aktivitas Unit (km)

Biaya Depresiasi  per Unit

Beban Depresiasi

(Aktv unit x Depr/unit)

Akumulasi Depresiasi

Nilai Buku

(HP –

Akum Depr)

2017

250.000

275

  68.750.000

  68.750.000

231.250.000

2018

320.000

275

  88.000.000

156.750.000

143.250.000

2019

210.000

275

  57.750.000

214.500.000

  85.500.000 

2020

150.000

275

  41.250.000

255.750.000

  44.250.000

2021

 70.000

275

  19.250.000

275.000.000

  25.000.000

Total

1.000.000

 

    Selain itu, kedua metode ini juga memiliki kelebihannya masing-masing. Metode garis lurus lebih mudah untuk digunakan dan diaplikasikan dalam akuntansi serta lebih mudah dalam menentukan tarif penyusutannya. Sedangkan, pemakaian metode aktivitas akan membuat perusahaan lebih mudah dalam melakukan pemonitoran terhadap penyusutan aset, menjaga nilai aset, dan menciptakan manajemen resiko akan asetnya.

Share this Post:

Comments0