
Indonesiaconsult.com (18/02/2025) – Badan Pusat Statistik (BPS) telah menemukan bahwa data impor kurma Indonesia mencapai 16,43 ribu ton. Angka ini sekitar 20,68 juta dolar AS pada Januari 2025 atau menjelang Ramadhan.
Amalia Adiningar selaku Plt Kepala BPS, menjelaskan bahwa nilai impor kurma tersebut meningkat sebesar 55,73% secara bulanan (month to month/mtm). Angka peningkatan ini merupakan data perbandingan dengan bulan Desember 2024.
“Menyambut Ramadhan, impor kurma 16,43 ribu ton atau 20,68 juta dollar AS pada Januari 2025.” Hal tersebut disampaikan oleh Amalia dalam Konferensi pers pada Senin lalu. Dikutip dari laman Pajak.com pada Selasa (18/02).
Amalia turut menjelaskan bahwa impor kurma terbesar berasal dari Mesir, yaitu sebanyak 10,15 ribu ton atau sekitar 61,80%. Selanjutnya diikuti Arab Saudi dengan total sebanyak 1,88 ribu ton atau mencapai 11,42%. Lalu ada pula Uni Emirat Arab sebanyak 1,76 ribu ton atau mencapai 10,71%.
“Dilihat dari trennya, impor kurma mulai meningkat sekitar 5 bulan menjelang periode Ramadhan dan Lebaran,” sebut Amalia.
Baca Juga: Donald Trump; Amerika Serikat Umumkan Rencana Kenaikan Pajak Impor
Total Impor Indonesia
Pada Januari 2025, impor kurma Indonesia menunjukkan penurunan yang cukup besar, yaitu sebesar 15,18% dibandingkan dengan bulan Desember 2024. Total nilai impor pada bulan tersebut mencapai 18 miliar dolar AS, dengan penurunan yang terjadi pada komoditas migas dan nonmigas. Penurunan ini terjadi baik secara bulanan maupun jika dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun sebelumnya.
Pada Januari 2025, total impor Indonesia mencapai 18 miliar dolar AS. Secara rinci, 15,52 miliar dolar AS untuk impor nonmigas dan 2,48 miliar dolar AS untuk impor migas. Jika dibandingkan dengan Desember 2024, impor migas mengalami penurunan sebesar 24,69%, sedangkan impor nonmigas turun sebesar 13,43%. Amalia menegaskan bahwa semua jenis impor mengalami penurunan secara bulanan.
“Impor menurut penggunaan pada Januari 2025, seluruh jenis impor turun secara bulanan. Secara tahunan, terjadi penurunan pada barang konsumsi dan bahan baku penolong. Namun, impor barang modal masih meningkat,” ujar Amalia.
Pada Januari 2025, impor Indonesia mengalami penurunan yang signifikan pada beberapa kategori. Impor barang konsumsi menunjukkan penurunan sebesar 28,65% dibandingkan dengan Desember 2024. Selain itu, impor bahan baku/penolong juga mengalami kontraksi sebesar 13,11%, sedangkan impor barang modal turun sebesar 15,19%.
Penurunan impor juga terjadi pada beberapa komoditas utama nonmigas. Mesin dan peralatan mekanis mencatat penurunan impor terbesar, yaitu sebesar 15,04% secara bulanan dan 9,71% secara tahunan. Mesin dan perlengkapan elektrik juga mengalami penurunan impor, meskipun dalam persentase yang lebih kecil, yaitu 0,87% secara bulanan dan 2,24% secara tahunan.
Namun, ada satu komoditas yang mengalami peningkatan impor secara bulanan, yaitu plastik dan barang dari plastik, yang meningkat sebesar 0,76%. Meskipun demikian, secara tahunan, impor plastik dan barang dari plastik masih mengalami penurunan sebesar 0,71%.
Sumber: Pajak.com