
Indonesiaconsult.com (14/10/2024), Presiden Joko Widodo (Jokowi) menyampaikan dengan bangga bahwa industri hilirisasi nikel berhasil meningkatkan pendapatan negara secara signifikan. Pendapatan sektor ini meningkat dari Rp 40 triliun menjadi sekitar USD 34,4 miliar atau sekitar Rp 537 triliun (kurs Rp15.619.000). Hal ini terjadi dalam tiga tahun terakhir sejak Indonesia berhenti mengekspor bahan baku nikel pada tahun 2020.
Jokowi mengatakan, peningkatan signifikan ini menunjukkan dampak positif hilirisasi terhadap perekonomian nasional. Peningkatan ini menjadi bukti nyata pengolahan nikel dalam negeri menghasilkan nilai tambah yang lebih tinggi dibandingkan sekadar mengekspor bahan mentah.
“Waktu kita ekpor dalam bentuk mentah, 2,9 miliar dollar AS per tahun. Begitu setopdi 2020, masuk ke industri turunan di 2023 jadi 34,4 miliar dollar AS,” jelas Presiden Jokowi dalam acara Puncak Penghargaan Subroto 2024. Dikutip dari laman Pajak.com pada Senin (14/10).
“Lompatannya bayangkan. Melompatnya berapa kali dari Rp40 triliun ke 34,4 miliar dollar AS. Berarti kurang lebih Rp500an triliun lebih. Lompatannya besar sekali,” lanjut Jokowi.
Dalam kesempatan itu, Jokowi juga menolak anggapan bahwa keuntungan hilirisasi hanya menguntungkan perusahaan besar.
“Jangan salah, negara ini mendapat banyak uang dari ini,” tegas Jokowi.
Baca Juga: Jokowi; Ekspor Bahan Mentah Akan Dihentikan
Sumber Penerimaan Negara Dari Hilirisasi Nikel
Ia juga menjelaskan bahwa penerimaan negara dari hilirisasi nikel berasal dari berbagai sumber. Sumber yang tersebut adalah pajak perusahaan, PPh 21, royalti, dan dividen saham milik pemerintah di perusahaan besar seperti Freeport. Selain itu, pendapatan juga berasal dari pajak daerah, Pajak Bumi dan Bangunan (PBB), dan Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP).
Bagi Jokowi, pendapatan signifikan dari sektor hilir akan digunakan untuk membiayai berbagai proyek pembangunan infrastruktur dan program sosial di Indonesia. Menurutnya, dana tersebut membawa manfaat yang signifikan bagi kesejahteraan masyarakat, terutama dalam perbaikan infrastruktur dan pemberian bantuan sosial.
“Ini bias kita pakai untuk membangun jalan desa, jalan tol, pelabuhan baru, airport baru, untuk subsidi, dan bansos rakyat kita,” Sebut Presiden Jokowi.
Lebih lanjut Jokowi menegaskan, hilirisasi tidak hanya berlaku pada nikel, tetapi juga pada bahan baku strategis lainnya. Bahan baku yang dimaksud adalah seperti tembaga, bauksit, timah, emas, bahkan batu bara.
Pemerintah terus menggalakkan pengolahan bahan baku dalam negeri untuk menciptakan nilai lebih dan meningkatkan pendapatan negara. Kebijakan ini diharapkan menjadikan Indonesia lebih mandiri dalam pengelolaan sumber daya alamnya. Selain itu, kebijakan ini juga diharapkan dapat memberikan manfaat sebesar-besarnya bagi seluruh rakyatnya.
“Semuanya didorong, termasuk batu bara didorong untuk bias masuk ke DME (Dimetil Eter) dan lainnya. Ini akan memberikan nilai tambah yang sangat besar,” Jelas Jokowi.
Sumber: Pajak.com
